Jumat, 13 Februari 2009

PROFIL ROHIS SMA N 1 KRAMAT

"AL MUKARROMAH"
ROHIS SMA NEGERI 1 KRAMAT

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan kepada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kami dan dari keburukan-keburukan amal-amal kami. Siapa yang Allah berikan hidayah kepadanya maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada satupun yang dapat memberikan hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada satupun tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar)melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Al Mukarromah adalah sebuah organisasi kerohanian Islam SMA Negeri 1 Kramat. Al Mukarromah merupakan organisasi yang bercorak Islami. Dakwh menegakkan tauhid di lingkungan sekolah dan sekitarnya merupakan misi dakwah Al Mukarromah. Al Mukarromah berada di Jalan Garuda No. 1a Bongkok Kec. Kramat Kab. Tegal. Kondisi Akhlaq, pemikiran, pengetahuan dan pemahaman sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Kramat terhadap Islam yang masih kurang merupakan cerminan dari kondisi medan dakwah Al Mukarromah.

Tujuan diadakannya kegiatan kerohanian Islam ialah :

  1. Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
  2. Mewujudkan manusia yang berilmu dan berakhlaqul karimah.
  3. Mempererat ikatan silaturrahim antar sesama siswa-siswi muslim SMA Negeri 1 Kramat.
  4. Menciptakan suasana Islami di SMA Negeri 1 Kramat.

Usaha untuk merealisasikan tujuan tersebut di atas adalah dengan pendidikan, yakni pendidikan yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman yang shahih.

Kegiatan Al Mukarromah kami selenggarakan berdasarkan firman Allah, sebagai berikut:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung." (QS. 3:104).

Shalawat dan salam semoga tercurahlimpahkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ridho Allah subhanahu wa ta'ala semoga senantiasa menyertai para pejuang (aktifis dakwah) Al Mukarromah dari generasi ke generasi.

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 03 Februari 2009

Bulletin Jum'at Edisi IV

VALENTINE’S DAYS
Dalam Pandangan Islam


VALENTINE'S DAYS atau hari kasih sayang adalah sebuah tradisi bagi kaum muda mudi yang biasa diperingati setiap tanggal 14 Februari di berbagai negara yang secara realitanya bukan hanya remaja dan ABG (Anak Baru Gede) saja, tapi mereka yang sudah berkeluarga pun ikut memeriahkannya dengan berbagai cara serta keunikan tersendiri dalam mengungkapkan sebuah arti kasih sayang.
Dengan berlabelkan Cinta, Valentine's Days (baca VD) kian membudaya di Indonesia entah sejak kapan asal muasal VD datang dan dimeriahkan di negeri ini, yang jelas VD adalah sebuah prodak Eropa beberapa abad lalu yang kemudian diikuti oleh sebagian rakyat Indonesia.
Banyak versi yang menerangkan asal muasal VD. Versi Pertama, VD adalah sebuah tanggal untuk mengenang tokoh Kristen bernama Santa Valentine yang tewas sebagai martir, ia hukum mati dengan cara dipukuli dan dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270 M oleh Kaisar Romawi yaitu Raja Cladius II (268-270). Versi Kedua, VD adalah sebuah tanggal untuk untuk menghormati Dewi Juno yang dikenal dengan Dewi perempuan dan perkawinan, adalah suatu kepercaayaan bangsa Romawi Kuno bahwa Dewi Juno adalah Ratu dari Dewa dan Dewi bangsa Romawi. Kemudian diikuti oleh hari sesudahnya yaitu tanggal 15 Februari sebagai Perayaan Lupercalia yakni sebuah upacara pensucian serta memohon perlindungan kepada Dewa Lupercalia dari gangguan Srigala dan ganguan-ganguan lainnya. Versi Ketiga, Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christian Observe It?" mengatakan bahwa kata "Valentine" adalah berasal dari kata Latin yang memiliki arti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa" yang ditujukan kepada Tuhan orang Romawi yaitu Nimrod dan Lupercus. Nah sekarang coba anda fikirkan apabila anda mengatakan "to be my Valentine" ini berarti anda memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa" sesuatu yang sangat berlebihan sekali.

Hukum Merayakan Hari Valentine
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”
Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan : “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam.Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela. Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.
Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nIscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)
“ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN
Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.
1. PRINSIP / DASAR
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.
2. SUMBER ASASI
Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Padahal berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tanpa berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.
Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
3. TUJUAN
Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan n sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.
4. OPERASIONAL
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)
Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Kasih Sayang dalam Islam
Sebenarnya dalam Islam tidak mengenal Hari Kasih Sayang, kasih sayang dalam Islam terhadap sesama tidaklah terbatas dengan waktu dan dimanapun berada, baik untuk keluarga, kerabat, dan sahabat yang semuanya masih dalam koridor-koridor agama Islam itu sendiri. Nabi Saw., bersabda : "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" HR. Muslim.
Disini jelas bahwa kita dianjurkan sekali untuk saling menjaga dan menghargai antar sesama sebagai tanda kasih sayang yang mesti dihormati. Hal ini untuk menghindari berbagai keburukan serta dapat mengenal antar sesama untuk memperkuat dan menjaga tali persaudaraan. Dalam hadits Nabi saw.: "Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas dingin). HR. Muslim. Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda : "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang", jadi jelas bahwa yang masuk surga itu hanyalah orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang yang tanpa dibarengi dengan niat-niat jelek.
Dengan datangnya Valentine's Day dikhawatirkan bagi kaum muda-mudi yang tidak mengerti akan terjerumus dalam hal-hal negatif dengan mentafsirkan kasih sayang di hari yang special ini. Firman Allah swt.: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q.S. al-Israa':32), yakni perbuatan yang dilarang oleh agama baik secara terang-terangan maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu kita mesti sadar apa arti yang sesungguhnya sebuah kasih sayang.
Selain itu pula dijelaskan dalam perkara mencintai seseorang tidaklah boleh untuk berlebihan yang akan mengakibatkan penyesalan dan sia-sia belaka, sebagai etika untuk seorang muslim Rasulullah saw. bersabda : "Cintailah seseorang (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu disuatu hari dia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu di suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu." (H.R. Turmidzi) dan masih banyak lagi diantara hadits Nabi saw. yang menerangkan tentang kasih sayang yang membawa kebaikan bagi umat manusia. Dengan demikian marilah kita mencontoh budi pekerti Nabi besar Muhammad saw., yang berdasarkan al-Qur'an dan Hadits sebagai jalan untuk kebaikan untuk di dunia dan hari kemudian
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 30 Januari 2009

Zodiak, Sudah Fiktif, Syirik Lagi

Zodiak sebenanya berasal dari kata Yunani, Zodiak yang artinya binatang. Konon, orang Yunani kuno, suka meneliti benda angkasa luar, termasuk bintang-bintang. Ternyata sebuah bintang itu jika dihubungkan menjadi rangkaian bintang (disebut rasi bintang) bisa membentuk gambar seperti binatang.
Hampir semakna dengan zodiak, yaitu horoskop, ia didefenisikan sebagi peta langit yang menunjukkan posisi relatif matahari, bulan dan planet-planet, serta lambang zodiak pada suatu waktu dan tempat. Langit digambarakan sebagai lingkaran yang terbagi mejadi 12 irisan, tiap irisan menandakan beberapa sisi kehidupan seorang manusia, seperti kekayaan, kesehatan, dan perjodohan.
BINTANG…PENGATUR NASIB?
Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang menciptakan & mengatur segala apa-apa yang ada di alam semesta ini, dan tidak ada saham sedikit pun dari makhluk-Nya termasuk bintang dan benda-benda lainnya untuk ikut-ikutan tahu hal yang gaib. Bintang-bintang itu adalah makhluk yang tunduk dan tidak memiliki suatu urusan apa pun. Ia tidak menunjukkan kepada Allah kesengsaraan, kebahagian, kematian dan kehidupan. Meyakini bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh dan dialah yang berbuat, dengan kata lain bahwa bintang-bintanglah yang menciptakan kejadian-kejadian dan akibat-akibat yang terjadi, maka ini termasuk syirik besar. Karena barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala maka ini termasuk orang yang musyrik.
Zaid bin Khalid berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengimami kami dalam shalat subuh di Hudabiyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika kami selasai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lantas bersabda, yang artinya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Tuhan", maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sedangkan yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini, atau bintang itu," maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Bukhârî dan Muslim).

ISLAM MENYIKAPI RAMALAN BINTANG
Menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, bahwa denganyalah dia mengetahui perkara gaib, lalu ia berdalil dengan gerakan-gerakan perpindahan serta perubahan-perubahan bintang tersebut bahwa akan terjadi begini dan begitu, karena bintang itulah yang menyebabkan begini dan begitu, seperti perkataan, "Orang tersebut kehidupannya akan sengsara karena ia lahir pada bintang tersebut," maka berarti ia telah menjadikan wasilah untuk mempelajari ilmu perbintangan untuk mengukur dan mengetahui hal yang gaib. Dan orang seperti itu telah kufur dan keluar dari Islam. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, "Katakanlah, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal yang gaib di langit dan di bumi kecuali Allah." (QS. An-Naml: 65).
Jadi barang siapa yang mengaku mengetahui perkara gaib berarti telah mendustakan Al-Qur'an. Adapun orang-orang yang sengaja mendatangi para tukang ramal dan paranormal untuk menanyakan hal-hal gaib kepada mereka, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan ancaman keras bagi mereka dengan sabdanya, "Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari." (HR. Muslim).
Ini adalah sanksi bagi orang yang sekadar bertanya kepada dukun dan tukang ramal tanpa mempercayai ucapannya. Adapun orang yang bertanya dan meyakini kebenaran ucapan dukun dan tukang ramal tersebut, maka hukumnya adalah kafir. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barang siapa mendatangi paranormal dan membenarkan ucapan-ucapanya, maka dia telah kufur dengan apa-apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." (Hadits hasan, diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunnah dari Abu Hurairah, dan lafazh ini bagi Ibnu Mâjah). Hukumnya jelas kafir sebab ia telah membenarkan dan meyakini ucapan dukun dan tukang ramal tersebut tentang perkara gaib. Padahal Allah telah berfirman, yang artinya, "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka ia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya." (QS. Al-Jin: 26-27).
Sedangkan dukun dan paranormal bukan seorang rasul, melainkan seorang pendusta dan pembohong besar. Mereka ini berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenis mereka kapok untuk berdusta dan bermanipulasi.
Para penggemar zodiak, bisa jadi akan berkilah, "Sayakan hanya membaca ramalan bintang/zodiak ini di majalah, bukan mendatangi dan bertanya kepada dukun."
Sesungguhnya kata 'mendatangi' dan 'menayakan' hanya contoh semata. Toh, kalau dirunut, ramalan bintang di majalah dan koran atau pun di media-media lainnya juga dibuat oleh paranormal, dan seorang yang akan membaca ramalan tersebut, di lubuk hatinya juga akan bertanya-tanya, "Bagaimana nasibku saat ini?"
SYUBHAT MEREKA
Beberapa orang jahil berkata, "Kami mendatangi tukang sihir dan mereka mengabarkan kepada kami berita-berita nyata (benar-benar terjadi)."
TANGGAPANRasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menjawab syubhat mereka dalam sebuah hadits dari Aisyah, ia berkata, "Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang dukun, beliau menjawab, "Mereka tidak memiliki sandaran apa pun." Mereka berkata, "Ya, Rasulullah! Mereka menceritakan kepada kami tentang sesuatu Itu adalah kalimat yang ternyata benar-benar terjadi." Rasulullah bersabda, " hak (perintah dan ketetapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala) yang dicuri oleh bangsa jin kemudian mereka membisikkan ke telinga pengikutnya (dukun, paranormal dan sejenisnya) kemudian mereka mencampuradukkannya dengan seratus kebohongan." (HR. Bukhârî).
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, artinya,
"Apabila Allah menetapkan perintah di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firman-Nya, seakan-akan firman yang (didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata. Hal itu memekakkan mereka (hingga mereka jatuh pingsan karena takut). Maka jika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah (syetan-syetan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain(digambarkan sufyan (perawi hadits-red.) dengan telapak tangannya dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya) maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian sampai ke mulut tukang sihir dan demikian seterusnya. Akan tetapi kadang-kadang setan penyampai berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut. Dan kadangkala sudah sempat menyampaikan beritanya sebelum terkena syihab; lalu dengan salah satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir atau tukang ramal datang dengan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir dan tukang ramal) mengatakan, "Bukankah kita telah diberitahukan bahwa pada hari ini akan terjadi anu (dan itu benar terjadi)?" Sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena yang telah didengarnya dari langit." (HR. Bukhârî).
Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas adalah bahwasanya dukun dan tukang ramal terkadang benar, tetapi kedustaannya jauh lebih banyak. Juga menunjukkan bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya sekali dukun terbukti benar maka dia akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah terbukti ada pada dukun, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kedustaan yang dilakukan para dukun.
Lalu apakah fungsi dan peranan bintang-bintang tersebut? Al-Bukhârî meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Qatâdah, seorang tabi'in mengatakan, "Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah:1. Sebagai hiasan langit.
2. Sebagai pelempar setan.
3. Sebagai tanda-tanda penunjuk arah.
Karena itu, barangsiapa yang dalam masalah ini berpendapat selain (ketiga) hal tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri dengan hal yang di luar batas pengetahuannya."

Kesimpulan:
Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan
Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.

Ramalan Bintang Adalah Sihir
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Ramalan Bintang = Ramalan Dukun
Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).

Hukum Membaca Ramalan Bintang
Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)
Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).
Jika ia membaca zodiak dengan tujuan untuk dibantah, dijelaskan dan diingkari tentang kesyirikannya, maka hukumnya terkadang dituntut bahkan wajib. (disarikan dari kitab Tamhid karya Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dan Qaulul Mufid karya Syeikh Utsaimin dengan sedikit perubahan).

Shio, Fengshui, dan Kartu Tarot
Di zaman modern sekarang ini tidak hanya zodiak yang digunakan sebagai sarana untuk meramal nasib. Seiring dengan berkembangnya zaman, ramalan-ramalan nasib dalam bentuk lain yang berasal dari luar pun mulai masuk ke dalam Indonesia. Di antara ramalan-ramalan modern impor lainnya yang berkembang dan marak di Indonesia adalah Shio, Fengshui (keduanya berasal dari Cina) dan kartu Tarot (yang berasal dari Italia dan masih sangat populer di Eropa). Kesemua hal ini hukumnya sama dengan ramalan zodiak.

Nasib Baik dan Nasib Buruk
Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, jika kita renungkan, maka sesungguhnya orang-orang yang mencari tahu ramalan nasib mereka, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan mereka menginginkan nasib yang baik dan terhindar dari nasib yang buruk. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita cam dan yakinkan di dalam hati-hati kita, bahwa segala hal yang baik dan buruk telah Allah takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana Nabi bersabda “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Hanya Allah yang tahu nasib kita. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hal yang baik dan terhindar dari hal yang buruk, selebihnya kita serahkan semua hanya kepada Allah. Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath Thalaq: 3). Terakhir, ingatlah, bahwa semua yang Allah tentukan bagi kita adalah baik meskipun di mata kita hal tersebut adalah buruk. Allah berfirman yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216). Berbaik sangkalah kepada Allah bahwa apabila kita mendapatkan suatu hal yang buruk, maka pasti ada kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Adil terhadap hamba-hambaNya.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 21 Januari 2009

BINTAL RUTIN SETIAP HARI SABTU

sabtu, tanggal 17 Januari 2009 kenarin merupakan hari pertama diadakan bintal rutin
tema yang disajikan oleh pembicara cukup sesuai dengan kebutuhan siswa sma negeri 1 Kramat. Pak ustad memberi tausiah tentang syarat orang yang akan bahagia yaitu harus punya ilmu, amal dan akhlak. Pak ustad juga menjelaskan syarat-syarat untuk mendapatkan ilmu diantaranya harus, sabar, hormat pada guru, perlu pengorbanan dst

[+/-] Selengkapnya...

Bulletin Jum'at edisi ketiga

Zodiak, Sudah Fiktif, Syirik Lagi


Zodiak sebenanya berasal dari kata Yunani, Zodiak yang artinya binatang. Konon, orang Yunani kuno, suka meneliti benda angkasa luar, termasuk bintang-bintang. Ternyata sebuah bintang itu jika dihubungkan menjadi rangkaian bintang (disebut rasi bintang) bisa membentuk gambar seperti binatang.
Hampir semakna dengan zodiak, yaitu horoskop, ia didefenisikan sebagi peta langit yang menunjukkan posisi relatif matahari, bulan dan planet-planet, serta lambang zodiak pada suatu waktu dan tempat. Langit digambarakan sebagai lingkaran yang terbagi mejadi 12 irisan, tiap irisan menandakan beberapa sisi kehidupan seorang manusia, seperti kekayaan, kesehatan, dan perjodohan.
BINTANG…PENGATUR NASIB?
Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang menciptakan & mengatur segala apa-apa yang ada di alam semesta ini, dan tidak ada saham sedikit pun dari makhluk-Nya termasuk bintang dan benda-benda lainnya untuk ikut-ikutan tahu hal yang gaib. Bintang-bintang itu adalah makhluk yang tunduk dan tidak memiliki suatu urusan apa pun. Ia tidak menunjukkan kepada Allah kesengsaraan, kebahagian, kematian dan kehidupan. Meyakini bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh dan dialah yang berbuat, dengan kata lain bahwa bintang-bintanglah yang menciptakan kejadian-kejadian dan akibat-akibat yang terjadi, maka ini termasuk syirik besar. Karena barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala maka ini termasuk orang yang musyrik.
Zaid bin Khalid berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengimami kami dalam shalat subuh di Hudabiyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika kami selasai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lantas bersabda, yang artinya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Tuhan", maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sedangkan yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini, atau bintang itu," maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Bukhârî dan Muslim).

ISLAM MENYIKAPI RAMALAN BINTANG
Menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, bahwa denganyalah dia mengetahui perkara gaib, lalu ia berdalil dengan gerakan-gerakan perpindahan serta perubahan-perubahan bintang tersebut bahwa akan terjadi begini dan begitu, karena bintang itulah yang menyebabkan begini dan begitu, seperti perkataan, "Orang tersebut kehidupannya akan sengsara karena ia lahir pada bintang tersebut," maka berarti ia telah menjadikan wasilah untuk mempelajari ilmu perbintangan untuk mengukur dan mengetahui hal yang gaib. Dan orang seperti itu telah kufur dan keluar dari Islam. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, "Katakanlah, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal yang gaib di langit dan di bumi kecuali Allah." (QS. An-Naml: 65).
Jadi barang siapa yang mengaku mengetahui perkara gaib berarti telah mendustakan Al-Qur'an. Adapun orang-orang yang sengaja mendatangi para tukang ramal dan paranormal untuk menanyakan hal-hal gaib kepada mereka, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan ancaman keras bagi mereka dengan sabdanya, "Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari." (HR. Muslim).
Ini adalah sanksi bagi orang yang sekadar bertanya kepada dukun dan tukang ramal tanpa mempercayai ucapannya. Adapun orang yang bertanya dan meyakini kebenaran ucapan dukun dan tukang ramal tersebut, maka hukumnya adalah kafir. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barang siapa mendatangi paranormal dan membenarkan ucapan-ucapanya, maka dia telah kufur dengan apa-apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." (Hadits hasan, diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunnah dari Abu Hurairah, dan lafazh ini bagi Ibnu Mâjah). Hukumnya jelas kafir sebab ia telah membenarkan dan meyakini ucapan dukun dan tukang ramal tersebut tentang perkara gaib. Padahal Allah telah berfirman, yang artinya, "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka ia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya." (QS. Al-Jin: 26-27).
Sedangkan dukun dan paranormal bukan seorang rasul, melainkan seorang pendusta dan pembohong besar. Mereka ini berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenis mereka kapok untuk berdusta dan bermanipulasi.
Para penggemar zodiak, bisa jadi akan berkilah, "Sayakan hanya membaca ramalan bintang/zodiak ini di majalah, bukan mendatangi dan bertanya kepada dukun."
Sesungguhnya kata 'mendatangi' dan 'menayakan' hanya contoh semata. Toh, kalau dirunut, ramalan bintang di majalah dan koran atau pun di media-media lainnya juga dibuat oleh paranormal, dan seorang yang akan membaca ramalan tersebut, di lubuk hatinya juga akan bertanya-tanya, "Bagaimana nasibku saat ini?"
SYUBHAT MEREKA
Beberapa orang jahil berkata, "Kami mendatangi tukang sihir dan mereka mengabarkan kepada kami berita-berita nyata (benar-benar terjadi)."
TANGGAPANRasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menjawab syubhat mereka dalam sebuah hadits dari Aisyah, ia berkata, "Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang dukun, beliau menjawab, "Mereka tidak memiliki sandaran apa pun." Mereka berkata, "Ya, Rasulullah! Mereka menceritakan kepada kami tentang sesuatu Itu adalah kalimat yang ternyata benar-benar terjadi." Rasulullah bersabda, " hak (perintah dan ketetapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala) yang dicuri oleh bangsa jin kemudian mereka membisikkan ke telinga pengikutnya (dukun, paranormal dan sejenisnya) kemudian mereka mencampuradukkannya dengan seratus kebohongan." (HR. Bukhârî).
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, artinya,
"Apabila Allah menetapkan perintah di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firman-Nya, seakan-akan firman yang (didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata. Hal itu memekakkan mereka (hingga mereka jatuh pingsan karena takut). Maka jika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah (syetan-syetan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain(digambarkan sufyan (perawi hadits-red.) dengan telapak tangannya dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya) maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian sampai ke mulut tukang sihir dan demikian seterusnya. Akan tetapi kadang-kadang setan penyampai berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut. Dan kadangkala sudah sempat menyampaikan beritanya sebelum terkena syihab; lalu dengan salah satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir atau tukang ramal datang dengan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir dan tukang ramal) mengatakan, "Bukankah kita telah diberitahukan bahwa pada hari ini akan terjadi anu (dan itu benar terjadi)?" Sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena yang telah didengarnya dari langit." (HR. Bukhârî).
Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas adalah bahwasanya dukun dan tukang ramal terkadang benar, tetapi kedustaannya jauh lebih banyak. Juga menunjukkan bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya sekali dukun terbukti benar maka dia akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah terbukti ada pada dukun, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kedustaan yang dilakukan para dukun.
Lalu apakah fungsi dan peranan bintang-bintang tersebut? Al-Bukhârî meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Qatâdah, seorang tabi'in mengatakan, "Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah:1. Sebagai hiasan langit.
2. Sebagai pelempar setan.
3. Sebagai tanda-tanda penunjuk arah.
Karena itu, barangsiapa yang dalam masalah ini berpendapat selain (ketiga) hal tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri dengan hal yang di luar batas pengetahuannya."

Kesimpulan:
Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan
Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.

Ramalan Bintang Adalah Sihir
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Ramalan Bintang = Ramalan Dukun
Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).

Hukum Membaca Ramalan Bintang
Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 15 Januari 2009

Bulletin Jum'At

Telah terbit bulletin Jum'at Edisi Kedua dapatkan bulletinnya hanya dengan infak Rp 300,00

Fatwa Lajnah Da’imah (Dewan Tetap Arab Saudi) Seputar Bencana di Jalur Gaza

Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da;
Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.
Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10) dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71) dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)
Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi dibelakang mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya: “Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”. (Al Ma’idah: 2)
Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka. Dan diantaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.
Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.
Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan orang-orang yang berakal dan bijak disetiap urusan mereka, karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya langkah.
Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.
Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya dan menjadikan tipu daya mereka boomerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.
Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.
http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=152

Bulan Muharam Bukan Bulan Sial

“Bulan Muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram (Suro) yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?
Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?
Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?
Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.
Para pembaca sekalian, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya):
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)
Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (Yunus: 78)
Kaum ‘Aad yang telah Allah binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf: 70)
Apa pula yang dikatakan oleh kaum Tsamud dan kaum Madyan kepada nabi mereka, nabi Shalih dan nabi Syu’aibMereka berkata: “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?…” (Hud: 62)
“Wahai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kami agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami …” (Hud: 87)
Demikianlah, setiap rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Al Baqarah: 170)Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)
Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (artinya):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya?. Karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur (تَطَيُّر) atau Thiyarah (طِيَرَة), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu. Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al A’raf: 131)

Tathayyur Termasuk Kesyirikan Kepada Allah
Seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharram itu akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah. Rasulullah yang telah mengkabarkan demikian, dalam sabdanya: الطِّـيَرَةُ شِـرْكٌ
“Thiyarah itu adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)
Para pembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, diantaranya:
1. Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (Hud: 56)
2. Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah berfirman (artinya):
“Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (Al Ikhlash: 2)
Para pembaca, orang yang tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan;
Pertama: meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.
Kedua: melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan khawatir.
Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.
Bagaimana Menghilangkannya?
Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.
‘Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shahabat Rasulullah telah membimbing kita bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah.
Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah.
Rasulullah juga mengajarkan do’a kepada kita: اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Hakekat Musibah
Suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. Ketahuilah bahwasanya musibah itu bukan karena hajatan yang dilakukan pada bulan Muharram, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah.Orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya. مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah padanya.” (HR. Al Bukhari)
Ketahuilah, wahai pembaca, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga merupakan akibat perbuatannya sendiri. Allah berfirman (artinya): “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …” (Asy Syura: 30)
Yakni disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan manusia.

Tinggalkan Tathayyur, Masuk Al Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab
Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya.
Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rasulullah dalam sabdanya:
هُمُ الَّذِيْنَ لاَيَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Mereka dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah.
Semoga tulisan yang singkat ini, dapat memberikan nuansa baru bagi saudara-saudaraku yang sebelumnya tidak mengetahui bahaya tathayyur dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.

[+/-] Selengkapnya...

Pengajian Al Mukarromah

Ikutilah pengajian Al-Mukarromah setiap Jum'at dengan pembicara dari Bapak/Ibu Guru
dapatkan ilmu dan ketenangan hati dengan mengikuti pengajian Al Mukarromah

[+/-] Selengkapnya...