Jumat, 30 Januari 2009

Zodiak, Sudah Fiktif, Syirik Lagi

Zodiak sebenanya berasal dari kata Yunani, Zodiak yang artinya binatang. Konon, orang Yunani kuno, suka meneliti benda angkasa luar, termasuk bintang-bintang. Ternyata sebuah bintang itu jika dihubungkan menjadi rangkaian bintang (disebut rasi bintang) bisa membentuk gambar seperti binatang.
Hampir semakna dengan zodiak, yaitu horoskop, ia didefenisikan sebagi peta langit yang menunjukkan posisi relatif matahari, bulan dan planet-planet, serta lambang zodiak pada suatu waktu dan tempat. Langit digambarakan sebagai lingkaran yang terbagi mejadi 12 irisan, tiap irisan menandakan beberapa sisi kehidupan seorang manusia, seperti kekayaan, kesehatan, dan perjodohan.
BINTANG…PENGATUR NASIB?
Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang menciptakan & mengatur segala apa-apa yang ada di alam semesta ini, dan tidak ada saham sedikit pun dari makhluk-Nya termasuk bintang dan benda-benda lainnya untuk ikut-ikutan tahu hal yang gaib. Bintang-bintang itu adalah makhluk yang tunduk dan tidak memiliki suatu urusan apa pun. Ia tidak menunjukkan kepada Allah kesengsaraan, kebahagian, kematian dan kehidupan. Meyakini bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh dan dialah yang berbuat, dengan kata lain bahwa bintang-bintanglah yang menciptakan kejadian-kejadian dan akibat-akibat yang terjadi, maka ini termasuk syirik besar. Karena barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala maka ini termasuk orang yang musyrik.
Zaid bin Khalid berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengimami kami dalam shalat subuh di Hudabiyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika kami selasai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lantas bersabda, yang artinya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Tuhan", maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sedangkan yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini, atau bintang itu," maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Bukhârî dan Muslim).

ISLAM MENYIKAPI RAMALAN BINTANG
Menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, bahwa denganyalah dia mengetahui perkara gaib, lalu ia berdalil dengan gerakan-gerakan perpindahan serta perubahan-perubahan bintang tersebut bahwa akan terjadi begini dan begitu, karena bintang itulah yang menyebabkan begini dan begitu, seperti perkataan, "Orang tersebut kehidupannya akan sengsara karena ia lahir pada bintang tersebut," maka berarti ia telah menjadikan wasilah untuk mempelajari ilmu perbintangan untuk mengukur dan mengetahui hal yang gaib. Dan orang seperti itu telah kufur dan keluar dari Islam. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, "Katakanlah, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal yang gaib di langit dan di bumi kecuali Allah." (QS. An-Naml: 65).
Jadi barang siapa yang mengaku mengetahui perkara gaib berarti telah mendustakan Al-Qur'an. Adapun orang-orang yang sengaja mendatangi para tukang ramal dan paranormal untuk menanyakan hal-hal gaib kepada mereka, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan ancaman keras bagi mereka dengan sabdanya, "Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari." (HR. Muslim).
Ini adalah sanksi bagi orang yang sekadar bertanya kepada dukun dan tukang ramal tanpa mempercayai ucapannya. Adapun orang yang bertanya dan meyakini kebenaran ucapan dukun dan tukang ramal tersebut, maka hukumnya adalah kafir. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barang siapa mendatangi paranormal dan membenarkan ucapan-ucapanya, maka dia telah kufur dengan apa-apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." (Hadits hasan, diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunnah dari Abu Hurairah, dan lafazh ini bagi Ibnu Mâjah). Hukumnya jelas kafir sebab ia telah membenarkan dan meyakini ucapan dukun dan tukang ramal tersebut tentang perkara gaib. Padahal Allah telah berfirman, yang artinya, "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka ia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya." (QS. Al-Jin: 26-27).
Sedangkan dukun dan paranormal bukan seorang rasul, melainkan seorang pendusta dan pembohong besar. Mereka ini berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenis mereka kapok untuk berdusta dan bermanipulasi.
Para penggemar zodiak, bisa jadi akan berkilah, "Sayakan hanya membaca ramalan bintang/zodiak ini di majalah, bukan mendatangi dan bertanya kepada dukun."
Sesungguhnya kata 'mendatangi' dan 'menayakan' hanya contoh semata. Toh, kalau dirunut, ramalan bintang di majalah dan koran atau pun di media-media lainnya juga dibuat oleh paranormal, dan seorang yang akan membaca ramalan tersebut, di lubuk hatinya juga akan bertanya-tanya, "Bagaimana nasibku saat ini?"
SYUBHAT MEREKA
Beberapa orang jahil berkata, "Kami mendatangi tukang sihir dan mereka mengabarkan kepada kami berita-berita nyata (benar-benar terjadi)."
TANGGAPANRasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menjawab syubhat mereka dalam sebuah hadits dari Aisyah, ia berkata, "Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang dukun, beliau menjawab, "Mereka tidak memiliki sandaran apa pun." Mereka berkata, "Ya, Rasulullah! Mereka menceritakan kepada kami tentang sesuatu Itu adalah kalimat yang ternyata benar-benar terjadi." Rasulullah bersabda, " hak (perintah dan ketetapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala) yang dicuri oleh bangsa jin kemudian mereka membisikkan ke telinga pengikutnya (dukun, paranormal dan sejenisnya) kemudian mereka mencampuradukkannya dengan seratus kebohongan." (HR. Bukhârî).
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, artinya,
"Apabila Allah menetapkan perintah di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firman-Nya, seakan-akan firman yang (didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata. Hal itu memekakkan mereka (hingga mereka jatuh pingsan karena takut). Maka jika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah (syetan-syetan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain(digambarkan sufyan (perawi hadits-red.) dengan telapak tangannya dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya) maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian sampai ke mulut tukang sihir dan demikian seterusnya. Akan tetapi kadang-kadang setan penyampai berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut. Dan kadangkala sudah sempat menyampaikan beritanya sebelum terkena syihab; lalu dengan salah satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir atau tukang ramal datang dengan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir dan tukang ramal) mengatakan, "Bukankah kita telah diberitahukan bahwa pada hari ini akan terjadi anu (dan itu benar terjadi)?" Sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena yang telah didengarnya dari langit." (HR. Bukhârî).
Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas adalah bahwasanya dukun dan tukang ramal terkadang benar, tetapi kedustaannya jauh lebih banyak. Juga menunjukkan bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya sekali dukun terbukti benar maka dia akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah terbukti ada pada dukun, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kedustaan yang dilakukan para dukun.
Lalu apakah fungsi dan peranan bintang-bintang tersebut? Al-Bukhârî meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Qatâdah, seorang tabi'in mengatakan, "Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah:1. Sebagai hiasan langit.
2. Sebagai pelempar setan.
3. Sebagai tanda-tanda penunjuk arah.
Karena itu, barangsiapa yang dalam masalah ini berpendapat selain (ketiga) hal tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri dengan hal yang di luar batas pengetahuannya."

Kesimpulan:
Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan
Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.

Ramalan Bintang Adalah Sihir
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Ramalan Bintang = Ramalan Dukun
Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).

Hukum Membaca Ramalan Bintang
Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)
Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).
Jika ia membaca zodiak dengan tujuan untuk dibantah, dijelaskan dan diingkari tentang kesyirikannya, maka hukumnya terkadang dituntut bahkan wajib. (disarikan dari kitab Tamhid karya Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dan Qaulul Mufid karya Syeikh Utsaimin dengan sedikit perubahan).

Shio, Fengshui, dan Kartu Tarot
Di zaman modern sekarang ini tidak hanya zodiak yang digunakan sebagai sarana untuk meramal nasib. Seiring dengan berkembangnya zaman, ramalan-ramalan nasib dalam bentuk lain yang berasal dari luar pun mulai masuk ke dalam Indonesia. Di antara ramalan-ramalan modern impor lainnya yang berkembang dan marak di Indonesia adalah Shio, Fengshui (keduanya berasal dari Cina) dan kartu Tarot (yang berasal dari Italia dan masih sangat populer di Eropa). Kesemua hal ini hukumnya sama dengan ramalan zodiak.

Nasib Baik dan Nasib Buruk
Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, jika kita renungkan, maka sesungguhnya orang-orang yang mencari tahu ramalan nasib mereka, tidak lain dan tidak bukan dikarenakan mereka menginginkan nasib yang baik dan terhindar dari nasib yang buruk. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita cam dan yakinkan di dalam hati-hati kita, bahwa segala hal yang baik dan buruk telah Allah takdirkan 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sebagaimana Nabi bersabda “Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim). Hanya Allah yang tahu nasib kita. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hal yang baik dan terhindar dari hal yang buruk, selebihnya kita serahkan semua hanya kepada Allah. Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath Thalaq: 3). Terakhir, ingatlah, bahwa semua yang Allah tentukan bagi kita adalah baik meskipun di mata kita hal tersebut adalah buruk. Allah berfirman yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216). Berbaik sangkalah kepada Allah bahwa apabila kita mendapatkan suatu hal yang buruk, maka pasti ada kebaikan dan hikmah di balik itu semua. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Adil terhadap hamba-hambaNya.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 21 Januari 2009

BINTAL RUTIN SETIAP HARI SABTU

sabtu, tanggal 17 Januari 2009 kenarin merupakan hari pertama diadakan bintal rutin
tema yang disajikan oleh pembicara cukup sesuai dengan kebutuhan siswa sma negeri 1 Kramat. Pak ustad memberi tausiah tentang syarat orang yang akan bahagia yaitu harus punya ilmu, amal dan akhlak. Pak ustad juga menjelaskan syarat-syarat untuk mendapatkan ilmu diantaranya harus, sabar, hormat pada guru, perlu pengorbanan dst

[+/-] Selengkapnya...

Bulletin Jum'at edisi ketiga

Zodiak, Sudah Fiktif, Syirik Lagi


Zodiak sebenanya berasal dari kata Yunani, Zodiak yang artinya binatang. Konon, orang Yunani kuno, suka meneliti benda angkasa luar, termasuk bintang-bintang. Ternyata sebuah bintang itu jika dihubungkan menjadi rangkaian bintang (disebut rasi bintang) bisa membentuk gambar seperti binatang.
Hampir semakna dengan zodiak, yaitu horoskop, ia didefenisikan sebagi peta langit yang menunjukkan posisi relatif matahari, bulan dan planet-planet, serta lambang zodiak pada suatu waktu dan tempat. Langit digambarakan sebagai lingkaran yang terbagi mejadi 12 irisan, tiap irisan menandakan beberapa sisi kehidupan seorang manusia, seperti kekayaan, kesehatan, dan perjodohan.
BINTANG…PENGATUR NASIB?
Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Zat yang menciptakan & mengatur segala apa-apa yang ada di alam semesta ini, dan tidak ada saham sedikit pun dari makhluk-Nya termasuk bintang dan benda-benda lainnya untuk ikut-ikutan tahu hal yang gaib. Bintang-bintang itu adalah makhluk yang tunduk dan tidak memiliki suatu urusan apa pun. Ia tidak menunjukkan kepada Allah kesengsaraan, kebahagian, kematian dan kehidupan. Meyakini bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh dan dialah yang berbuat, dengan kata lain bahwa bintang-bintanglah yang menciptakan kejadian-kejadian dan akibat-akibat yang terjadi, maka ini termasuk syirik besar. Karena barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala maka ini termasuk orang yang musyrik.
Zaid bin Khalid berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengimami kami dalam shalat subuh di Hudabiyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika kami selasai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lantas bersabda, yang artinya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Tuhan", maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Sedangkan yang mengatakan, "Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini, atau bintang itu," maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Bukhârî dan Muslim).

ISLAM MENYIKAPI RAMALAN BINTANG
Menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, bahwa denganyalah dia mengetahui perkara gaib, lalu ia berdalil dengan gerakan-gerakan perpindahan serta perubahan-perubahan bintang tersebut bahwa akan terjadi begini dan begitu, karena bintang itulah yang menyebabkan begini dan begitu, seperti perkataan, "Orang tersebut kehidupannya akan sengsara karena ia lahir pada bintang tersebut," maka berarti ia telah menjadikan wasilah untuk mempelajari ilmu perbintangan untuk mengukur dan mengetahui hal yang gaib. Dan orang seperti itu telah kufur dan keluar dari Islam. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, "Katakanlah, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal yang gaib di langit dan di bumi kecuali Allah." (QS. An-Naml: 65).
Jadi barang siapa yang mengaku mengetahui perkara gaib berarti telah mendustakan Al-Qur'an. Adapun orang-orang yang sengaja mendatangi para tukang ramal dan paranormal untuk menanyakan hal-hal gaib kepada mereka, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan ancaman keras bagi mereka dengan sabdanya, "Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari." (HR. Muslim).
Ini adalah sanksi bagi orang yang sekadar bertanya kepada dukun dan tukang ramal tanpa mempercayai ucapannya. Adapun orang yang bertanya dan meyakini kebenaran ucapan dukun dan tukang ramal tersebut, maka hukumnya adalah kafir. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barang siapa mendatangi paranormal dan membenarkan ucapan-ucapanya, maka dia telah kufur dengan apa-apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." (Hadits hasan, diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunnah dari Abu Hurairah, dan lafazh ini bagi Ibnu Mâjah). Hukumnya jelas kafir sebab ia telah membenarkan dan meyakini ucapan dukun dan tukang ramal tersebut tentang perkara gaib. Padahal Allah telah berfirman, yang artinya, "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka ia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya." (QS. Al-Jin: 26-27).
Sedangkan dukun dan paranormal bukan seorang rasul, melainkan seorang pendusta dan pembohong besar. Mereka ini berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenis mereka kapok untuk berdusta dan bermanipulasi.
Para penggemar zodiak, bisa jadi akan berkilah, "Sayakan hanya membaca ramalan bintang/zodiak ini di majalah, bukan mendatangi dan bertanya kepada dukun."
Sesungguhnya kata 'mendatangi' dan 'menayakan' hanya contoh semata. Toh, kalau dirunut, ramalan bintang di majalah dan koran atau pun di media-media lainnya juga dibuat oleh paranormal, dan seorang yang akan membaca ramalan tersebut, di lubuk hatinya juga akan bertanya-tanya, "Bagaimana nasibku saat ini?"
SYUBHAT MEREKA
Beberapa orang jahil berkata, "Kami mendatangi tukang sihir dan mereka mengabarkan kepada kami berita-berita nyata (benar-benar terjadi)."
TANGGAPANRasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menjawab syubhat mereka dalam sebuah hadits dari Aisyah, ia berkata, "Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang dukun, beliau menjawab, "Mereka tidak memiliki sandaran apa pun." Mereka berkata, "Ya, Rasulullah! Mereka menceritakan kepada kami tentang sesuatu Itu adalah kalimat yang ternyata benar-benar terjadi." Rasulullah bersabda, " hak (perintah dan ketetapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala) yang dicuri oleh bangsa jin kemudian mereka membisikkan ke telinga pengikutnya (dukun, paranormal dan sejenisnya) kemudian mereka mencampuradukkannya dengan seratus kebohongan." (HR. Bukhârî).
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, artinya,
"Apabila Allah menetapkan perintah di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firman-Nya, seakan-akan firman yang (didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata. Hal itu memekakkan mereka (hingga mereka jatuh pingsan karena takut). Maka jika dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah (syetan-syetan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain(digambarkan sufyan (perawi hadits-red.) dengan telapak tangannya dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya) maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian sampai ke mulut tukang sihir dan demikian seterusnya. Akan tetapi kadang-kadang setan penyampai berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut. Dan kadangkala sudah sempat menyampaikan beritanya sebelum terkena syihab; lalu dengan salah satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir atau tukang ramal datang dengan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir dan tukang ramal) mengatakan, "Bukankah kita telah diberitahukan bahwa pada hari ini akan terjadi anu (dan itu benar terjadi)?" Sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena yang telah didengarnya dari langit." (HR. Bukhârî).
Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas adalah bahwasanya dukun dan tukang ramal terkadang benar, tetapi kedustaannya jauh lebih banyak. Juga menunjukkan bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya sekali dukun terbukti benar maka dia akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah terbukti ada pada dukun, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kedustaan yang dilakukan para dukun.
Lalu apakah fungsi dan peranan bintang-bintang tersebut? Al-Bukhârî meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Qatâdah, seorang tabi'in mengatakan, "Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah:1. Sebagai hiasan langit.
2. Sebagai pelempar setan.
3. Sebagai tanda-tanda penunjuk arah.
Karena itu, barangsiapa yang dalam masalah ini berpendapat selain (ketiga) hal tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta membebani diri dengan hal yang di luar batas pengetahuannya."

Kesimpulan:
Ramalan Bintang Termasuk Ilmu Nujum/Perbintangan
Zodiak adalah tanda bintang seseorang yang didasarkan pada posisi matahari terhadap rasi bintang ketika orang tersebut dilahirkan. Zodiak yang dikenal sebagai lambang astrologi terdiri dari 12 rasi bintang (Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces). Zodiak ini biasa digunakan sebagai ramalan nasib seseorang, yaitu suatu ramalan yang didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak (disarikan dari website Wikipedia). Dalam islam, zodiak termasuk ke dalam ilmu nujum/Perbintangan.

Ramalan Bintang Adalah Sihir
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti ia telah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmu nujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan). Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa apabila ilmu nujumnya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiri adalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Ramalan Bintang = Mengetahui Hal yang Gaib
Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selain Allah yang mengetahui perkara gaib. Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml: 65). Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34). Klaim bahwa ada yang mengetahui ilmu gaib selain Allah adalah kekafiran yang mengeluarkan dari islam.

Ramalan Bintang = Ramalan Dukun
Setiap orang yang menyatakan bahwa ia mengetahui hal yang gaib, maka pada hakikatnya ia adalah dukun. Baik dia itu tukang ramal, paranormal, ahli nujum dan lain-lain. (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust Abu Isa Hafizhohullah) Oleh karena itu, ramalan yang didapatkan melalui zodiak sama saja dengan ramalan dukun. Hukum membaca ramalan bintang disamakan dengan hukum mendatangi dukun. (Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh dalam kitab At-Tamhid).

Hukum Membaca Ramalan Bintang
Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
Jika ia membaca zodiak, meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut. maka hukumnya adalah haram, sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah “Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)Jika ia membaca zodiak kemudian membenarkan ramalan zodiak tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah bersabda “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 15 Januari 2009

Bulletin Jum'At

Telah terbit bulletin Jum'at Edisi Kedua dapatkan bulletinnya hanya dengan infak Rp 300,00

Fatwa Lajnah Da’imah (Dewan Tetap Arab Saudi) Seputar Bencana di Jalur Gaza

Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da;
Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.
Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10) dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71) dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)
Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi dibelakang mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya: “Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”. (Al Ma’idah: 2)
Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka. Dan diantaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.
Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.
Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan orang-orang yang berakal dan bijak disetiap urusan mereka, karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya langkah.
Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.
Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya dan menjadikan tipu daya mereka boomerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.
Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.
http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=152

Bulan Muharam Bukan Bulan Sial

“Bulan Muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram (Suro) yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?
Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?
Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?
Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.
Para pembaca sekalian, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya):
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)
Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (Yunus: 78)
Kaum ‘Aad yang telah Allah binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf: 70)
Apa pula yang dikatakan oleh kaum Tsamud dan kaum Madyan kepada nabi mereka, nabi Shalih dan nabi Syu’aibMereka berkata: “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?…” (Hud: 62)
“Wahai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kami agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami …” (Hud: 87)
Demikianlah, setiap rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Al Baqarah: 170)Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)
Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (artinya):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya?. Karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur (تَطَيُّر) atau Thiyarah (طِيَرَة), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu. Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al A’raf: 131)

Tathayyur Termasuk Kesyirikan Kepada Allah
Seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharram itu akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah. Rasulullah yang telah mengkabarkan demikian, dalam sabdanya: الطِّـيَرَةُ شِـرْكٌ
“Thiyarah itu adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)
Para pembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, diantaranya:
1. Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (Hud: 56)
2. Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah berfirman (artinya):
“Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (Al Ikhlash: 2)
Para pembaca, orang yang tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan;
Pertama: meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.
Kedua: melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan khawatir.
Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.
Bagaimana Menghilangkannya?
Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.
‘Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shahabat Rasulullah telah membimbing kita bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah.
Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah.
Rasulullah juga mengajarkan do’a kepada kita: اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Hakekat Musibah
Suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. Ketahuilah bahwasanya musibah itu bukan karena hajatan yang dilakukan pada bulan Muharram, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah.Orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya. مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah padanya.” (HR. Al Bukhari)
Ketahuilah, wahai pembaca, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga merupakan akibat perbuatannya sendiri. Allah berfirman (artinya): “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …” (Asy Syura: 30)
Yakni disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan manusia.

Tinggalkan Tathayyur, Masuk Al Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab
Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya.
Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rasulullah dalam sabdanya:
هُمُ الَّذِيْنَ لاَيَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Mereka dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah.
Semoga tulisan yang singkat ini, dapat memberikan nuansa baru bagi saudara-saudaraku yang sebelumnya tidak mengetahui bahaya tathayyur dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.

[+/-] Selengkapnya...

Pengajian Al Mukarromah

Ikutilah pengajian Al-Mukarromah setiap Jum'at dengan pembicara dari Bapak/Ibu Guru
dapatkan ilmu dan ketenangan hati dengan mengikuti pengajian Al Mukarromah

[+/-] Selengkapnya...